Kajian Hujjah Ahlissunnah wal Jamaah dibaca langsung oleh KH. M. Abdul Mujib dan dilaksanakan setiap ba’da Tarawih di Halaman Madrasah, diikuti oleh seluruh santri putra dan putri. Pengajian ini menjadi ruang konsolidasi keilmuan akidah Ahlussunnah wal Jamaah di tengah derasnya arus pemikiran keagamaan kontemporer.
Pengajian ba’da Tarawih tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan diperkuat oleh rangkaian kajian kitab klasik pada waktu ba’da Subuh dan ba’da Ashar yang membekali santri dengan fondasi fikih, hadis, akhlak, dan tasawuf sebagai satu kesatuan manhaj keilmuan pesantren.
Penguatan Akidah melalui Tradisi Kitab
Pada waktu ba’da Subuh, santri putri mengikuti pengajian di Area Asrama Putri dengan kajian Ashnaful Maghruurin, Al-‘Auliyā’, Al-Adabu Ma‘arrosuli, serta Ihyaus Sunan Al-Mahjuroh. Sementara santri putra mengikuti kajian Tashil Nailil Amani, Mukhtashor Abi Jamroh, dan Fiqhul Halal wal Haram di Area Asrama Putra.
Kajian-kajian tersebut menjadi landasan awal dalam membentuk cara pandang santri terhadap agama yang berakar pada sanad keilmuan dan otoritas ulama, sejalan dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Sinergi Fikih, Hadis, dan Akhlak
Pada waktu ba’da Ashar, pengajian berlanjut dengan materi yang semakin memperkuat integrasi antara akidah dan praktik keberagamaan. Santri putri mendapatkan kajian Fiqhul Halal wal Haram, Mukhtashor Abi Jamroh, Ihyaus Sunan Al-Mahjuroh, serta kajian khusus Bulughul Maram untuk kelas 12. Adapun santri putra mengikuti kajian Fitan Akhir Zaman, Al Akhlaqu lil Banin Juz 2, dan Karamatus Syaikh Abd Qadir.
Rangkaian kajian ini dimaksudkan agar pemahaman akidah Ahlussunnah wal Jamaah tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi menjelma menjadi sikap, akhlak, dan perilaku santri dalam kehidupan sehari-hari.
Ramadhan sebagai Madrasah Aswaja
Melalui pengajian Hujjah Ahlissunnah wal Jamaah sebagai pusat kajian Ramadhan, Pesantren Assa’adah menegaskan komitmennya dalam menjaga dan merawat akidah Ahlussunnah wal Jamaah melalui jalur keilmuan pesantren yang moderat, berimbang, dan berakar kuat pada tradisi ulama salaf.
Dengan demikian, bulan Ramadhan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah, tetapi juga menjadi madrasah penguatan Aswaja, tempat santri menempa ilmu, akidah, dan akhlak dalam satu tarikan napas keilmuan pesantren.

0 Komentar