Di sinilah Isra’ Mi‘raj menunjukkan wajah sejatinya: bukan hanya mukjizat bagi Rasulullah ï·º, melainkan ujian bagi para pendengar. Saat logika manusia tak lagi mampu menjelaskan, iman dituntut untuk mengambil peran.
Pasca Isra’ Mi‘raj: Geger, Ejekan, dan Keraguan
Ketika Rasulullah ï·º menceritakan peristiwa Isra’ Mi‘raj kepada masyarakat Makkah, respon yang muncul bukanlah kekaguman, melainkan cemoohan. Kaum kafir Quraisy menganggap perjalanan tersebut mustahil secara akal: bagaimana mungkin seseorang menempuh perjalanan jauh, menembus langit, lalu kembali hanya dalam satu malam?
Reaksi ini bahkan berdampak pada sebagian orang yang telah beriman. Diriwayatkan bahwa ada yang goyah dan ragu, karena peristiwa ini berada di luar jangkauan nalar empiris yang mereka kenal. Maka sejak saat itu, Isra’ Mi‘raj menjadi pembatas yang jelas antara iman yang kokoh dan iman yang rapuh.
Strategi Quraisy: Menjatuhkan Islam dari Dalam
Melihat kegaduhan yang terjadi, kaum kafir Quraisy tidak berhenti pada ejekan publik. Mereka menyusun strategi yang lebih berbahaya: mendatangi Abu Bakar رضي الله عنه, sahabat terdekat Rasulullah ﷺ dan figur yang sangat berpengaruh di kalangan Muslim.
Tujuan mereka jelas. Jika Abu Bakar ragu atau tidak percaya, maka Islam akan runtuh dari dalam. Mereka berkata kepadanya dengan nada provokatif:
“Wahai Abu Bakar, apakah engkau percaya dengan apa yang dikatakan sahabatmu? Ia mengaku pergi ke Baitul Maqdis, naik ke langit, lalu kembali hanya dalam satu malam.”
Bagi Quraisy, ini adalah langkah strategis. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Tanpa ragu sedikit pun, Abu Bakar menjawab dengan kalimat yang kemudian tercatat dalam sejarah keimanan Islam:
“Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu benar. Bahkan aku membenarkan sesuatu yang lebih jauh dari itu: wahyu yang turun dari langit kepadanya.”
Jawaban ini membuat rencana Quraisy runtuh seketika. Alih-alih menjatuhkan Islam, mereka justru menyaksikan keteguhan iman yang melampaui logika manusia. Sejak saat itu, Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq, orang yang membenarkan Rasulullah ï·º secara mutlak.
Ketika Akal Memiliki Batas
Islam tidak menolak akal. Al-Qur’an justru mendorong manusia untuk berpikir, menalar, dan merenung. Namun Islam juga menegaskan bahwa akal memiliki batas. Tidak semua realitas dapat diukur dengan logika manusia.
Isra’ Mi‘raj termasuk dalam wilayah sam‘iyyat—perkara gaib yang hanya dapat diketahui melalui wahyu. Dalam wilayah ini, akal berfungsi untuk menerima dan memahami, bukan untuk menolak dan menghakimi. Ketika akal memaksa menguasai perkara gaib, yang muncul bukan kebenaran, melainkan kegelisahan.
Sikap Abu Bakar menunjukkan keseimbangan ideal: akal tidak dimatikan, tetapi ditundukkan kepada wahyu.
Shalat: Oleh-Oleh Agung dari Perjalanan Langit
Menariknya, oleh-oleh utama Isra’ Mi‘raj bukan kisah kosmik atau keajaiban langit, melainkan perintah shalat lima waktu. Ibadah ini menjadi sarana komunikasi langsung antara hamba dan Allah tanpa perantara.
Shalat seakan menjadi penegasan bahwa kedekatan dengan Allah tidak selalu ditempuh dengan perjalanan luar biasa, tetapi dengan ketundukan, disiplin, dan keikhlasan yang dilakukan setiap hari. Apa yang tidak mampu dijangkau oleh akal justru melahirkan ibadah yang paling membumi dan rasional bagi kehidupan manusia.
Relevansi bagi Santri dan Umat Masa Kini
Di era modern, ketika segala sesuatu dituntut untuk “masuk akal” dan “terbukti secara ilmiah”, peristiwa Isra’ Mi‘raj mengajarkan pelajaran penting: tidak semua kebenaran tunduk pada standar logika manusia.
Bagi santri dan masyarakat pesantren, Isra’ Mi‘raj adalah pengingat agar tetap bersikap seimbang: memaksimalkan akal dalam belajar dan berpikir, namun tetap tawadhu’ di hadapan wahyu. Sebab ada saatnya ilmu berhenti, dan iman harus melangkah.
Penutup
Isra’ Mi‘raj mengajukan satu pertanyaan mendasar bagi setiap Muslim:
apakah kita beriman karena telah memahami segalanya, atau beriman terlebih dahulu lalu berusaha memahami?
Ketika logika tak lagi mampu menjelaskan, di situlah iman diuji. Dan sejarah telah mencatat, bahwa mereka yang jujur pada keyakinannya—seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq—akan tetap berdiri teguh, meski seluruh dunia meragukannya.
Daftar Pustaka
Al-Baihaqi. Dala’il an-Nubuwwah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Ghazali, Abu Hamid. Al-Iqtisad fi al-I‘tiqad. Jeddah: Dar al-Minhaj.
Ibnu Hisyam. As-Sirah an-Nabawiyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Riyadh: Dar Thayyibah.
Al-Tabari. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Beirut: Dar al-Turats.

0 Komentar