Selamat Datang di Website Pesantren Assa'adah Depok, Telah dibuka PENERIMAAN SANTRI BARU TP. 2027/2028

KH Syukron Makmun : Ulama Madura yang Kharismatik

 


Assadah Media : 18 Okt 2026

Hari ini Ahad, 18 Oktober 2026 kita kehilangan seorang Tokoh Ulama yang Kiprahnya luar biasa dalam berdakwah di Nusantara , yaitu KH. Syukron Makmun ( Pengasuh Pondok Pesantren Darurrahman di Jakarta, Beliau adalah putra dari KH Makmun Nawawi, merupakan seorang kiai, sedangkan ibunya, Hj Masturoh, mengajar Al-Qur’an dan kitab kuning. 

Lingkungan keluarga tersebut menjadi salah satu fondasi perjalanan Syukron dalam mempelajari ilmu agama, KH. Syukron Makmun, lahir di Sampang Madura, 21 Desember 1941. Ia dilahirkan dengan lingkungan yang sangat kuat agamanya. Beliau tumbuh menjadi sosok kiai yang diidolakan oleh para masyarakat.  

Sejak kecil, ia sudah terjun ke dunia dakwah. Hal ini lah yang menyebabkan ia mendapat gelar “singa podium”. Berawal dari kelas 5 atau setingkat dengan kelas 2 SMA di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo, hingga pada awal tahun 1967 Kiai Syukron yang masih berusia kurang dari 30 tahun telah berdakwah di berbagai daerah seperti, Madiun, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Magetan, dan daerah sekitarnya. Tentunya ini merupakan prestasi yang sangat luar biasa bagi seorang pemuda yang telah berdakwah ke berbagai daerah.   

Perjuangannya dalam menyebarkan syiar islam tidak mudah. Hal ini dikarenakan pada zaman tersebut, terdapat golongan pemuda komunis yang selalu menentang dakwah yang diberikan olehnya. Setiap minggu terdapat pengajian rutin yang diadakan oleh Kiai Syukron. Walaupun begitu, ia selalu waspada akan bahaya dari kelompok komunis.   

Kemudian, ia pindah ke Jakarta untuk mengaji kepada Habib Ali Bin Husein di Bungur dan mengaji kitab Bukhori kepada Habib Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang. Selain kembali belajar, ia juga mengajar di beberapa Perguruan Tinggi di jakarta pada tahu 1971. 

Kiai Syukron juga mengisi beberapa majelis ta’lim secara rutin di Islamic Center. Karena keaktifannya dalam mengisi majelis ta’lim, ia meninggalkan aktivitasnya di Perguruan Tinggi. Selain Jakarta, beliau juga berdakwah hingga hampir seluruh Nusantara, seperti Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan masih banyak lagi. Bahkan juga berdakwah hingga ke berbagai negara di ASEAN, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Sumber : NU Online & Berita Satu

0 Komentar

× Promosi